Perjalanan agak tersendat. Bus dan kendaraan besar tidak diperbolehkan melewati jalan layang Sepanjang dan dialihkan jalurnya lewat jalan bawah. Sebabnya, sebuah truk pengangkut gabah mengalami patah as roda belakangnya saat berjalan naik. Volume kendaraan yang lumayan besar sedangkan jalurnya yang sempit mengakibatkan macet menjadi macet.
Baca juga:cara costum motor legend
Kembali ke keluarga muda tadi. Tak lama kemudian sang bocah sepertinya mulai kehausan. Rewel di gendongan. Sigap, sang ibu segera meminta sang ayah untuk mengambil susu di tas jinjing yang ditaruh di dekat pintu belakang bus. Srettt... Resleting tas terbuka. Sepintas saya lihat segebok pampers bayi dan satu kotak susu formula bayi. Lumayan mahal setahu saya [kebetulan sering belanja pampers dan lihat harga-harga susu bubuk kemasan di toko swalayan]. Sekejap, sang ayah sudah memegang botol susu dan kemudian diberikan kepada istrinya. Sepertinya sudah disiapkan sejak di rumah.
Si bocah mulai asyik dengan susu botolnya. Nikmat sambil berayun dalam gendongan. Bus masih berjalan perlahan. Sang ayah melepas rasa bosan dengan memandang sekeliling. puncak jari-jarinya menata rambut belah tengahnya. Sedangkan sang ibu masih bersandar di kursi penumpang, menatap lurus ke jendela samping. Mungkin sambil "menikmati" beratnya buah hati yang digendongnya.
Mengamati mereka seperti membayangkan keluarga saya. Beberapa kali kami menaiki bus untuk pulang pergi ke rumah orang tua maupun ke mertua. Bus ekonomi maupun yang patas sudah pernah kami coba. Sempat pula berdiri karena tidak ada pilihan lain. Sempat pula terpisah duduk depan dan belakang karena penuhnya penumpang waktu itu. Jadi, melihat sang ibu dan bocahnya, mengingatkan saya dengan Gaza dan umminya. Menggendong bayi sambil berdiri apalagi dengan kondisi jalan yang macet, penumpang yang berdesakan dan tujuan yang masih jauh, jelas bukanlah hal yang ringan. Mungkin saya atau istri tidak mampu melakukannya.
Dengan sisa-sisa semangat berempati, ditambah dengan sedikit keberanian dan rasa ragu-ragu, keraguan yang bercampur aduk, saya beranikan untuk berdiri dan mencolek bahu sang ayah. "Duduk, Mas.Buat ibunya" Spontan dia menjawab, "Terima kasih." Senyumnya mengembang. Dan beberapa saat kemudian ibu dan anak ini terlelap dalam tidurnya masing-masing. Lega. Alhamdulillah.
Sahabat, demikianlah sepenggal penggalan hidup masyarakat kita. Kebutuhan hidup keluarga muda dan bayinya perlu mendapat perhatian serius dari penguasa negeri ini. Pun, rasa peduli, empati juga perlu kita tumbuhkan terhadap sesama. Tak jarang kita lihat di kendaraan umum seorang anak muda yang asyik di tempat duduknya padahal ada kakek/nenek yang berdiri di dekatnya. Semoga negeri ini menjadi lebih baik :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca artikel ini.
Jika berkenan, silahkan berikan komentar Sahabat.
Jangan pernah ragu untuk beropini atau berdiskusi disini.
Mohon jangan spam, karena dengan berat hati Admin akan menghapus komentar yang dianggap spam dan yang dianggap dapat mengganggu para pembaca artikel-artikel Blog duflicate.blogspot.com
Sekali lagi terima kasih.
Sukses Selalu...